Art Education - Indonesia
Untuk segala materi pembelajaran, silakan masuk di menu Materi. Isi materi : Dasar-Dasar Seni, Zamrud Khatulistiwa, Khasanah Seni Budaya Nusantara, Seni Nusantara, Jawa Barat, Teori Dasar Musik, Musik Ritmik, Harmoni, Management Event, Komposisi, Pertunjukan Seni (PSP).
Seni sudah bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Persahabatan ini dalam peradaban manusia terjadi sejak peradaban manusia itu ada. Sehingga manusia dan seni selalu jalan berdampingan, mengukir sejarah jaman ke jaman. Perubahan-perubahan bentuk dan fungsi tak pernah ada kata berhenti. Sejak seni dilibatkan langsung atau tidak langsung dalam ritual-ritual manusia, hingga yang bersifat profan yang menyenangkan. Ukuran-ukuran nilai pun akan sulit menemukan indikator, apakah seni itu. Seperti tari 'Kecak' - Bali, semula merupakan bentuk ritual agamis, dan kini berubah bentuk menjadi aset wisata budaya yang sangat menghibur para wisatawan. Dan banyak lagi semacam itu dan tak bisa terbantahkan. (baca : Khasanah Seni Indonesia)
Lalu , muncullah berbagai pertanyaan mengapa seni itu bisa selalu ada. Dan banyak muncul pula para kreator seni atau seniman yang muncul silih berganti. Apa yang diharapkan dari seni itu sendiri. Dan seterusnya... Seperti para remaja-remaja masakini, berkesenian sepertinya sebuah tempat bagi mengekspresikan diri (baca : rumahseni2)
Melalui kolom ART EDUCATION ini ingin mengajak para pembaca dapat mengkaji lebih jauh tata nilai serta esensi dari seni itu. Bagi para pelajar tentunya bisa dijadikan ruang apresiasi agar kita dapat menemukan 'kesejatian' yang banyak diagung-agungkan para seniman.
Jika ada permasalahan, kolom ini juga bisa dijadikan ruang diskusi kita. Demikian, Semoga berkenan.
Salam - Wing W Pandu
wingpandoe@gmail.com
Jika Anda ingin menelusuri lebih jauh tentang kesenian, seni budaya, seni terapi, serta hubungan seni dengan displin ilmu lainnya, silakan masuki perpustakaan di halaman ini.
CONTENTS : Motivasi, Filosofi, Tokoh, Kreativitas, Bakat, Penelitian, Penemuan, Nasionalisme, dll
Banyak definisi tentang seni pernah didengungkan. Diantaranya hanya menunjukkan perbedaan peristilahan, di antara yang lain tampak memperlihatkan pertentangan. Namun, seperti yang ditunjukkan Morris Weitz dalam Philosophy of the Arts (1950 : 2), berbagai perselisihan yang sia-sia dapat dihindari jika cap estetika tidak ditempelkan pada satu potong dari seluruh tubuh seni, tetapi dipakai secara terpisah sebagai unsur pokok dari proses penciptaan, benda estetis, dan pengalaman estetis. Dalam bukunya An Introduction to Aesthetics (London, 1949), Profesor E.F. Carrit mengutip pendapat sekitar 40 ahli estetika yang representatif, yang mengungkapkan bahwa seni, sebagai proses kreatif adalah dari suasana hati, perasaan dan jiwa. Jadi Seni adalah ungkapan atau jiwa, perasaan, dan suasana hati yang diungkapkan.
Seniman bukan mengungkapkan perasaannya sendiri tapi apa yang ia ketahui tentang perasaan manusia
Ungkapan perasaan tidak selalu ungkapan artistik. Ungkapan artistik bersumber dari kualitas, citra jiwa, atau intisari perasaan atau usaha sepenuhnya untuk membuat obyek bernilai ungkap. Dengan demikian obyek yang seluruhnya tidak bersifat ungkap tidak bisa disebut karya seni. Karena pengertian ungkapan, seperti yang dipakai dalam pembicaraan estetika sangat terbuka bagi berbagai penafsiran dan salahpaham, maka istilah itu menjadi pokok pembicaraan dalam kritik; tetapi kritik ini dapat dipertemukan dengan uraian pengertian yang lebih tepat.
Seni adalah ungkapan atau perwujudan nilai-nilai.Karya seni itu bukanlah sekadar laporan tentang fakta-fakta melainkan proyeksi dari inspirasi, emosi, preferensi, apresiasi atau kesadaran akan nilai dari pembuatnya (seniman). Seni adalah bahasa spiritual yang mengungkapkan penilaian, lebih daripada memformulasikan deskripsi-deskripsi objektif
Nilai adalah kualitas yang membangkitkan apresiasi. Seni sebagai ungkapan nilai, terbit dari sikap penghargaan. Ia tidak hanya mencerminkan keadaan sekedar apa adanya tapi memilih, mengurangi dan mempertajam.
Nilai berbeda dengan fakta, sering semata-mata bersifat khayali. Dan lewat seni, nilai memperoleh semacam kenyataan sosial yang berbeda dari kenyataan ilmu.
Nilai diungkapkan dalam kegiatan kreatif seniman dan bertujuan menciptakan sebab-sebab nyata untuk apresiasi. Seniman menyampaikan sikap penilaiannya dengan karya-karyanya pada orang lain. Masalah bagi seniman adalah bagaimana menemukan kualitas dan bentuk-bentuk objektif yang dapat menggerakkan penanggap mendapati nilai-nilai yang ingin ia wujudkan dalam karya. Jika ia berhasil mengerjakan ini, maka ia telah mengungkapkan nilai-nilai.
Bagi penanggap, karya seni dipandang terdiri dari deretan bentuk perlambang yang harus ditafsirkan. Masalahnya, bagaimana membekali diri dengan kesadaran akan nilai-nilai yang dapat menghubungkan dirinya dengan deretan bentuk perlambang itu. Tergantung kepadanya apakah karya seni itu menghidupkan imajinasinya ataukah tinggal diam tak berbicara apa-apa. Ia harus membangkitkan dalam dirinya sikap yang sesuai sehingga ia mendapati nilai-nilai yang diwujudkan oleh seniman. Jika ia berhasil melakukan ini iapun mengungkap nilai-nilai dalam kontemplasi.