Harry Roesli, musik Kontemporer Indonesia

Mata Air Harry Roesli (1951-2004)

“Jangan menangis Indonesia kami berdiri membelamu Pertiwi.”

Itulah penggalan lirik Jangan Menangis Indonesia, karya Harry Roesli yang berkumandang membelah langit nan mendung saat pemakaman tokoh musik Indonesia, Ahad 12 Desember 2004 di Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Pemusik dengan nama lengkap Djauhar Zaharsjah Fachrudin Roesli ini menghembuskan napas terakhirnya Sabtu 11 Desember 2004 di Rumah Sakit Jantung Yayasan Harapan Kita Jakarta.

harry-roesliTanpa terasa, besok 11 Desember 2007, kang Harry, demikian sapaan akrabnya, telah tiga tahun meninggalkan kita semua. Namun, karya-karyanya masih tertoreh kuat dalam ingatan kita. Harry Roesli adalah sosok jenius yang banyak berkutat dalam pelbagai peristiwa budaya maupun sosial. Ketajaman intuisinya banyak melahirkan karya-karya fenomenal yang tak jarang cenderung ke pola kritik sosial. Ia acapkali melakukan gugat. Gugat terhadap ketimpangan sosial. Gugat terhadap kesewenangan. Gugat terhadap keculasan, dan seterusnya.

Tembang Jangan Menangis Indonesia itu sendiri tercetus setelah mencuatnya Peristiwa Malari pada 1974 yang banyak melibatkan protes dari para mahasiswa, termasuk Harry Roesli yang tengah mengenyam kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Harry Roesli yang kerap dijuluki biang Bengal Bandung ini juga sempat merasakan penjara yang pengap.

Lugas

Jika menilik karya-karyanya yang terangkum pada sekitar 20-an lebih album, sederet karya musik panggung hingga teater, maka kita bisa menangkap benang merah kerangka berpikir Harry Roesli yang lugas, tegas, tanpa tedeng aling-aling, terhadap hipokritas, tapi disajikan dalam semangat bercanda. Harry Roesli memang akrab dengan bingkai yang satirikal. Kadang, ia mengungkap tematik dengan menjungkirbalikkan logika.

Rasanya tak jauh berbeda dengan tokoh musik Amerika Serikat yang dikaguminya, Frank Zappa. Semangat humor terus terpompa dalam karya karyanya yang sarat simbol-simbol beratmosfer parodi. Lihat bagaimana Harry Roesli memotret jalan kehidupan Ken Arok, tokoh dari Singosari yang dikenal dengan kredo menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan dalam rock opera bertajuk Ken Arok.

Ken Arok berselingkuh dengan Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung. Ken Arok bahkan menghabisi nyawa Tunggul Ametung dengan menggunakan keris bikinan Empu Gandring. Simak penggalan liriknya ini : Kubunuh suamimu, kurebut tahtanya, dan engkau kujadikan isteriku!

Kritik demi kritik menyemburat dalam sejumlah album-albumnya, seperti Phylosophy Gang (1973), Titik Api (1975), Ken Arok (1977), Gadis Plastik (1977), Tiga Bendera (1977), LTO (1978), Daun (1978), Jika Hari tak Berangin, (1978) dan masih banyak lagi.

Beasiswa Musik

Tahun 1978, Harry Roesli bertolak ke Belanda untuk menjalani studi musik di Rotterdam Conservaorium Den Haag, Belanda. Ia mendapat beasiswa dari Ministerie Recreatien Maatscapeliik Werk. Harry yang merupakan cucu dari pujangga Marah Roesli menyelesaikan studinya pada 1981 sebagai seorang doktor dalam bidang musik.

Sekembalinya ke Indonesia, semangat berkarya Harry Roesli seolah tak terbendung lagi. Dia menyemburat bagai keran yang telah dibuka katupnya. Beberapa karyanya memang mulai banyak memihak pada ragam kontemporer seperti Musik Rumah Sakit hingga Musik Sikat Gigi. Harry bahkan mulai berkolaborasi dengan beberapa kelompok teater, seperti Teater Koma milik N Riantiarno maupun Teater Mandiri yang dikelola Putu Wijaya. Harry secara serius terlibat dalam pementasan teater Opera Kecoa maupun Opera Ikan Asin yang menyedot banyak penonton.

Mata Air

Di samping itu, ekspresi musik dan teaternya diwujudkan dalam Depot Kreasi Seni Bandung yang bermarkas di rumahnya, di Jalan WR Supratman Bandung. Rumah besar milik keluarga Ruslan Roesli ini seolah menjadi mata air kegiatan seni di wilayah Bandung.

Di saat-saat terakhir, Harry Roesli yang pergi meninggalkan seorang isteri dan dua putra kembar sempat menitipkan pesan yang bisa bermakna luas: ‘Jangan matikan lampu di kamar kerja saya’. Dan, karya-karya Harry Roesli sesungguhnya memang tak pernah mati.

DISKOGRAFI

  1. Philosophy Gang – Lion Record 1973
  2. Harry Roesli Solo 1 – Diamond 1972
  3. Harry Roesli Solo 2 – Diamond 1973
  4. Harry Roesli Solo 3 – Diamond 1974
  5. Harry Roesli Solo 4 – Diamond 1975
  6. Titik Api – Aktuil Musicollection 1976
  7. Ken Arok – Eterna 1977
  8. Tiga Bendera – Musica Studio’s 1977
  9. Gadis Plastik – Chandra Recording 1977
  10. LTO – Musica Studio’s 1978
  11. Harry Roesli dan Kharisma 1 – Aneka Nada (1977)
  12. Harry Roesli dan Kharisma 2 – Aneka Nada (1978)
  13. Jika Hari Tak Berangin – Aneka Nada (1978)
  14. Daun – SM Recording (1978)
  15. Ode dan Ode – Berlian Record (1978)
  16. Kota Gelap – Purnama Record (1979)
  17. Harry Roesli & DKSB – Prosound (1984)
  18. Kuda Rock N’Roll – Billboard (1985)
  19. Asmat Dream – Frogpeak (1990)
  20. Orang Basah – Frogpeak (1991)
  21. Cuaca Buruk – Frogpeak (1992)
  22. Cas Cis Cus – Hemagita Swara (1992)
  23. Si Cantik – Gema Nada Pertiwi (1997)

ALBUM KOLABORASI

  1. Musik Akustik Monticelli – Hidayat Audio (1977)
  2. Renny Jayusman & DKSB (1984)
  3. White Gold – Private (1995)
  4. Doel Soembang & Harry Roesli Aku Ingin Putus Universal Music Indonesia (2001)
  5. Iwan Fals In Collaboration Of – Musica Studios (2003)
  6. Jangan Pilih Politisi Busuk (2004)

MUSIK FILM

  1. Suci Sang Primadona (1977)
  2. Cas Cis Cus (Sonata di Tengah Kota) (1989)
  3. Si Kabayan Saba Kota (1989)
  4. Si Kabayan dan Gadis Kota (1989)
  5. Di Sana Senang, di Sini Senang (1990)
  6. Komar Si Glen Kemon Mudik (1990)
  7. Om Pasikom (Parodi Ibukota) (1990)
  8. Si Buta dari Goa Hantu (Lembah Tengkorak) (1990)
  9. Suamiku Sayang (1990)
  10. Si Kabayan dan Anak Jin (1991)
  11. Si Kabayan Saba Metropolitan (1991)
  12. Si Kabayan Mencari Jodoh (1992)

Dikutip dari Tulisan Denny Sakrie/KPMI, di harian Pikiran Rakyat.

Media Social, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *