Genre Musik di berbagai Jaman

Seringkali kita dipusingkan dengan nama-nama aliran music, atau genre. The Police pada jamannya disebut sebagai aliran bergaya New Wave, yang lainnya mengatakan Punk Rock. Queen ada yang menyebut Rock Kreatif, dan ada juga yang menamai Classic Rock. Metalica digolongkan pada aliran Rock Metal. Di jalur musik Rock mungkin kita ingat kelahiran rock bergaya alternative, punk, grunge, heavy metal, dll. Di Indonesia juga tidak kalah seru, sebutan pop melayu, pop kreatif, dangdut dengan atribut tambahannya, dll. Mungkin jika dikumpulkan bisa mencapai ribuan nama genre music. Jika Anda sering berkunjung ke situs penyedia music, seperti Myspace.com, LastFM, Reverbnation, Soundcloud, dll, para musisi yang penyimpan music disana memiliki kewajiban mencantumkan genre musiknya. Sebagai pengalaman pribadi, ternyata tidak mudah memilih option yang ditawarkan.

Genre itu apa sich?

Yamaha PSR-S950_stylePernah lihat portable keyboard? (Seperti: Yamaha PSR, ROLAND E atau KORG PA) Rhythm music atau iringan music pada dashboard disebut STYLE. Artinya gaya musical, bentuk pola iringan music yang jumlahnya bisa sampai ratusan. Portable keyboard membantu Anda membuat suasana music yang diinginkan. Sebenarnya ada perbedaan menyebut itu sebagai Rhythm. Ritmik dalam music berbeda dengan style. Ritmik adalah bergeraknya not-not dalam satuan waktu (durasi). Misal not ½ hitungan, ¼ hitungan, dst. Kesatuan nilai-nilai not itulah yang disebut ritmik. Sedangkan “Style” adalah gaya music, jiwanya music, beat yang menggerakkan tubuh. Tidak salah juga jika dalam genre, ritmik music juga turut membentuknya, membentuk pola-pola iringan yang berulang-ulang. Lalu bagaimana dengan Genre? Genre sederhanya tidak ubahnya style yang dijelaskan di atas. Genre muncul diberbagai penciptaan music karena keinginan para musisi untuk memberikan karakter yang baru, karakter yang diinginkan para pendengar music yang dinamis. Siapa lagi kalau bukan anak muda atau remaja yang dituju. Sementara genre-genre lama masih terus dipelihara dengan music yang masih selaras dengan jiwa masa kini. Sebut saja Blues dan Rock’n Roll yang dianggap sebagai basic musisi bersentuhan music.

Tidak sedikit genre music dunia mengakar pada jiwa-jiwa kelokalan daerah (folklore). Diantara sekian banyak diantaranya seperti ; Celtic, Country, Arabic, Bluegrass, Samba, Latin, Cacaca, dll. Di Indonesia kita mengenal Dangdut, Tarling, dll. Dalam perkembangan music masa kini dikelompokkan dalam “World Music” atau “Ethnomusic”(versi internet). Di berbagai pemanfaatan music di luar sebagai hiburan (music seni), berbagai genre hadir karena kebutuhan ekpresi musisi yang tidak pop. Nama-nama genre seperti Ambience, Music Industrial, Music Scoring Film, Avant Garde, Contemperary, dll memiliki riwayat yang sedikit ortodok, agak sedikit tak bisa melepaskan dari ikatan harmoni di jamannya. Namanya juga Classic, tentunya kita paham keartistikan karya Beethoven, Mozart, Sebastian Bach, Chopin, dll adalah sesuatu yang memang harus begitu, dipertahankan sebagaimana karya itu dikomposisi pada jamannya. Keluar dari sana, bukan klasik lagi namanya. Misalnya Anda arransemen komposisi “Minuet in G” menjadi berformat band.

genre-brainstorm1Ketika music masuk dalam wacana industry, disanalah berbagai genre music terus tumbuh memberikan pilihan pada para penikmat music. Para musisi secara kreatif terus mencari kesejatian dari karakter karya-karyanya. Maka lahirlah bendera baru yang dikibarkan penggagas genre. Jika melihat perkembangan music dunia, ada nama besar seperti ‘Bill Haley’ yang memelopori Rock’n Roll yang dibesarkan ‘’, ada nama Jimmy Hendrik yang membesarkan Musik Blues, ada nama Louis Amstrong di jalur music Jazz, ada nama Jean Michael Jarre (Frc) dan Kitaro (Jpn) yang membesarkan music Avant Garde, dll. Di Indonesia mungkin kita tak asing dengan nama Titik Puspa, Bimbo, Koes Plus, Iwan Fals, Jamrud, Chrisye,dll di music pop , Oma Irama dan Camelia Malik di music Dangdut, dll. Sementara para musisi berikutnya paling tidak menjadikannya sebagai referensi dalam berkarya.

Kesimpulannya bahwa genre music membawa music selalu dinamis dan hidup terus menerus di masyarakat penikmat music dunia. Suka dan atau tak suka (selera), kita masih diberikan banyak pilihan untuk menikmati music yang sejalan dengan kedinamisan rasa dan estetika kita. Tidak perlu dipusingkan, nikmati saja apapun musiknya sesuai hati kita. Biarkan musik berada di ruang kita masing-masing. Dorongan peran dinamika teknologi dan budaya akan menentukan kemana arah music berkembang.

 Links Tulisan Lain :

Media Social, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *