KUAS, membaca kerinduan dunia panggung

posisi kaki

Choice_and_changeSaat panggung melambai-lambai, saatnya kita berani untuk menyampaikan gagasan dan pikiran kita.  Siapa takut..?? Pentas adalah sebuah kerinduan banyak orang untuk berada di atasnya, apakah itu bermain peran, bermusik, menarikan liukan tubuh, yang semuanya adalah untuk menyampaikan ekpresi-ekspresi para penggila panggung. Ada saatnya untuk dipuji, digilai, diteriaki, ditepuki, dan bahkan dimaki. Ah.. panggung memang unik. Disana ada yang bermain-main untuk mengkomunikasikan bahasa ekspresinya kepada para penikmat panggung.

Panggung memiliki harapan untuk membuat semua orang bahagia. Melalui karya-karya itulah kebersamaan akan tercipta dalam suasana yang hangat.  Nah.. oleh karenanya tak sedikit orang berjibaku, mencurahkan segala waktu dan tenaga untuk mempersiapkan itu semua. Dalam kata edukasinya “proses” , proses untuk menjadikan. Dan inilah dituntut untuk menjadi “kreatif‘.

Membaca kerinduan itu, SMA Negeri 2 Bandung yang banyak disebut sebagai wadahnya orang-orang kreatif, di tahun ini menggagas sebuah event kecil. Datang dari segelintir siswa (rumahseni2), nama itu adalah K-U-A-S, disingkat Kreativitas Ujian Akhir Semester. Kegiatan ini menyeluruh bagi seluruh siswa kelas X, yang notabene adalah generasi pertama kurikulum 2013. Nah.. apa hubungannya dengan kurikulum itu? Salah satu bagian kurikulum menyebutkan salah satu tujuan menciptakan siswa memiliki keberanian dan percaya diri untuk tampil di hadapan umum, berani menyampaikan gagasan dan pikirannya yang kreatif dengan penuh tanggung jawab yang tinggi. Didasari itulah KUAS digulirkan sebagai salah satu instrumen penilaian akhir semester bagi kelas X mata pelajaran seni budaya. Insya Allah bulan Juni nanti ini akan digelar di kampus SMAN 2 Bandung.

Rambu-rambu Karya.

Bagi para siswa diharapkan dapat mengeksplorasi seluruh potensi yang dimiliki oleh dirinya dan kelompok produksinya. Pilihan karya hanya sampai di seni panggungan atau seni pentas. bermediakan musik, tari, teater dan film. Jika dikembangkan lagi kurang lebih sebagai berikut :

  1. Musik – Combo Band
  2. Musik – Paduan Suara/Vocal Group
  3. Musik – Gamelan
  4. Musik – Perkusi
  5. Musik – Ansambel
  6. Tari – Koreografi Moderen
  7. Tari – Tradisional
  8. Tari – Sendratari atau Oratorium
  9. Teater – Drama
  10. Teater – Kabaret
  11. Teater – Drama Musikal
  12. Film – Dokumenter
  13. Film – Fiksi (pendek)
  14. dll

Dari semua yang menjadi pilihan itu, harus disesuaikan dengan kemampuan yang ada. Sebagai catatan penting, bahwa semua karya harus mengangkat nilai-nilai folklore / etnik. Apapun medianya, nilai nusantara harus menjadi sumber inspirasi berkarya. Sebagai contoh :

Wayang sebagai sumber inspirasi, digambarkan dalam film fiksi seperti seseorang yang memasuki ruang fantasi dunia pewayangan.  Bisa saja ia bertemu dengan salah satu tokoh pewayangan, seperti Dewi Shinta, Nakula, Arjuna, dll.

Contoh lain adalah mengkolaborasikan instrumen etnik dalam aransemen musik moderen. Instrumen karinding menjadi gagasan unik untuk dimainkan bersama instrumen moderen. Untuk penggarapan itu sendiri, diberi batasan durasi, yaitu : Musik 10 menit, Teater 15 menit, Tari 10 menit, dan Film 12 menit.

Memang tak mudah untuk menjadi sempurna. Tetapi paling tidak ada sebuah usaha yang maksimal untuk mulai belajar berkarya. Gunakan potensi kreatif yang Anda miliki.

Selamat berkarya…

Media Social, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *