LIVE STAGE vs FILM di PSP

chessboard

3Pekan Seni Pelajar (PSP) 19 tahun 2014 yang merupakan program tahunan dan sudah menjadi sebuah tradisi di SMA Negeri 2 Bandung, menyisakan 8 bulan ke depan. Program yang lebih banyak mengeksplorasi seluruh potensi kreatif siswa ini masih sangat diminati sebagai sebuah kegiatan yang sangat menantang bagi para pelakunya (siswa kelas XI). Dan itu bisa terbukti dengan hadirnya PSP hingga ke 18 kalinya di panggung TBJB – Bandung setiap tahunnya ( di kisaran bulan mei). Dan hasilnya memang menjadi memori yang tak terlupakan bagi para pelakunya. (Baca : Pekan Seni Pelajar )

PSP bukan hal yang mudah bagi para pemula untuk menggeluti di seni pertunjukan. Berbekal dengan pengetahuan, pengalaman, dan kemauan, para kreator muda ini bahu membahu dengan tim produksi nya untuk menggagas sebuah pertunjukan yang melibatkan seluruh unsur seni (drama/teater, musik, tari, dan film), yang seluruhnya dalam satu kesatuan tema pilihan. Tidak ada satupun anggota tim produksi yang nganggur. Semua memiliki beban dan tugas yang sama beratnya untuk mendukung karya. Di sisi lain ada yang memang bertugas sebagi para pemain (musik, tari, drama). Dan sisi lainnya adalah sebagai tim pendukung pentas, seperti : kostum, dekorasi, filmmaker, lighting, penata audio, dll. Mensinergikan seluruhnya tidaklah mudah. Disinilah peran jiwa kebersamaan dibangun. Terkadang emosi bisa meninggi karena perbedaan-perbedaan. Dan terkadang pula berujung pada munculnya benturan-benturan.

cameraAkibat dari berbagai kendala yang terakhir muncul di PSP 18, ada sebuah pemikiran untuk menawarkan sebuah format yang relatif lebih mudah dihadapi para kreator, yakni SENI FILM. Film merupakan media ekspresi yang semakin mudah dilakukan banyak orang. Pendukung untuk membuat film semakin mudah dimiliki orang. Camera Foto Digital, Iphone, BB sudah mampu menangkap gambar denga resolusi gambar yang cukup tinggi. Dalam pengembangan tema, film akan berbicara lebih realistik, berbicara lebih nyata tentang kehidupan manusia. Sebagai film seni, tentunya film akan menjadi media ekspresi yang berbeda dengan film-film biasa. Melalui film, kita bisa sampaikan cerita kurun waktu yang panjang meskipun hanya disampaikan dengan durasi pendek sekalipun. Melalui pembuatan film, yang dirasakan manfaatnya kita bisa mengunggah karya-karya kita melalui media sosial Youtube dan penyedia layanan lainnya. Dan pada waktunya nanti, pengalaman ini bisa dimanfaatkan untuk pembuatan film-film pendek, dokumenter, film komersial (iklan), film profile, dll .

Baik.. di bawah ini dijabarkan berbagai perbedaan yang bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan format sajian di PSP 19 tahun 2014. Panggung (P) , Film (F).

MEDIA EKSPRESI

  • P : Para pemain berlatih untuk menyajikan langsung di atas panggung yang didukung oleh musik, tari, dekorasi, properti, kostum, lighting, tata audio, dll. Diperlukan sebuah persiapan yang sangat rumit dan detail untuk menjadikan penyajian tidak cacat atau putus di tengan atau di akhir.
  • F : Para pemain mengekspresikan karakter di hadapan kamera. Ekspresi para pemain menjadi detail gambar ketika camera zoom-in. Tetapi dalam teknik ambil gambar bisa dilakukan lebih satu kali hingga gambar dianggap sudah memenuhi harapan.

BIAYA PRODUKSI

  • P : Biaya produksi meliputi pembuatan properti, kostum, make up, video bumber, sewa gedung pertunjukan (TBJB), konsumsi latihan, transportasi, dekorasi, dll. Jika tim produksi mampu menekan biaya secara kreatif, boaya memang menjadi tidak mahal. Terakhir PSP 18, dibatasi sebesar Rp.400 ribu rupiah. Tapi pada kenyataannya tim produksi melebihi limit biaya.
  • F : Karena hampir seluruh produksi lebih banyak menerapkan teknik digital, peralatan bisa menggunakan peralatan yang dimiliki secara pribadi di rumah-rumah. Disarankan juga menyiapkan 1 HD ext, karena penyimpanan data film membutuhkan kapasitas yang besar. Penggunaan setting tempat, secara kreatif bisa menggunakan tempat-tempat terbuka/umum, rumah-rumah pribadi, dll. (sesuai dengan adegan cerita). Lantas untuk pemutaran film tersebut, sudah dijajaki sebuah kerjasama dengan tempat pertunjukan flim di kota Bandung (layar lebar).

PENGEMBANGAN GAGASAN CERITA.

  • P : Seni panggung adalah sebuah seni dengan segala keterbatasan, karena adanya dinding-dinding yang membatasi pengembangan cerita. Menggagas ide cerita harus memiliki imajinasi yang tinggi untuk menyajikan makna-makna simbolik. Selain itu adanya keterbatasan waktu yang membatasi cerita beralur panjang. Cerita biasa seperti novel atau film diyakinkan tidak akan bisa diterapkan di seni panggungan, karena alur cerita tidak bisa meloncat-loncat.
  • F : Menggagas cerita film akan sedikit lebih mudah, karena alur cerita bisa meloncat-loncat, satu tempat pindah ke tempat lainnya dalam hitung detik sekalipun. Film akan lebih berbicara tentang realitas para pemainnya dengan segala lingkungan sosialnya.

PROSES PERSIAPAN.

  • P : Setelah skenario sudah di-acc, mulailah para pemain melatih diri mengembangkan perannya masing-masing. Dalam waktu yang relatif panjang itu, ternyata tidaklah mudah untuk mempersiapkan kematangan berproses. Begitu banyak masalah yang muncul dari tim produksi, sehingga sepertinya hingga sampai di penghujung seperti tak pernah ada kata “SIAP”. Di hari-hari menjelang pelaksanaan, yang muncul adalah ketegangan dan kepanikan. Seringkali perencanaan yang sudah ditargetkan melenceng dari harapan tim. Sebagai pimpinan produksi (pimpro), dapat dipastikan terus menerus menata ulang programnya bersama tim. Tingkat kesulitan terbesar adalah bagaimana membangun posisi sutradara yang handal, yang mampu menjadi penata laku bagi para pemainnya.
  • F : Setelah skenario telah di-acc, mulailah pimpro menetapkan program kapan proses mulai dilakukan, seperti pengambilan gambar, membuat music scoring, editing gambar, dll. Sedikitnya dalam berproses pengambilam gambar akan lebih efektif. Satu kali atau lebih pengambilan satu adegan (scene) bisa dilakukan hingga mendapatkan gambar terbaik. Data scene masuk ke dalam HD untuk disortir, dipilih gambar yang terbaik untuk memulai proses editing. Pengambilan gambar tidak harus berurutan seseuai skenario.  Dengan demikian akan lebih mengefektifkan waktu yang dimiliki. Tetapi juga tidak terlalu mudah juga, peran editor adalah peran yang sangat tinggi untuk menghasilkan gambar terbaik.  Jika film berkategori “Film Musikal“, sudah dapat dipastikan penguasaan teknis perekaman musik harus dikuasai.

EFEKTIVITAS WAKTU BERPROSES.

Sebagai pelajar yang bukan dikhususkan hanya berkarya seni, tentunya sangat sulit untuk mencari ruang waktu sisa di tengah kegiatan belajar di sekolah. Kondisi sekarang adalah para siswa umumnya tidak cukup belajar hanya di sekolah. Belum lagi harus mengerjakan tugas sekolah yang tak pernah ada ujungnya. Bagaimanapun aktivitas sekolah harus lebih utama. Sisa waktu yang dimiliki otomatis hanya hari Sabtu dan Minggu (di SMAN 2 Bandung).

  • P : Latihan dan latihan adalah proses yang sangat melelahkan. Rasa puas dan siap tidak pernah ada ujungnya. Sehingga waktu yang dimiliki seringkali tidak efektif untuk mendatangkan hasil. Dan itu berlangsung terus hingga di penghujung menjelang hari pelaksanaan. Dan ini seringkali menyita waktu yang luar biasa di kehidupan para siswa yang harus juga menyelesaikan tugas-tugas harian sekolah.
  • F : Diperkirakan membuat film akan lebih efektif, karena pengambilan gambar yang terprogram dengan baik. Jika pun gambar setelah hasil editing masih bermasalah, bisa mengambil ulang gambar. Dalam proses pengambilan gambar, para pemain bisa melakukan latihan kecil terlebih dahulu. Jika memang mengambil konsep film musikal, musik bisa direkam dahulu dengan teknik recording. Pengambilan gambar bisa dilakukan dengan cara dubbing. Contoh film musikal : CampRock, High School Musical, Glee, dll.

Demikian kurang lebih dari perbandingan dua format berbeda dimensi. Tetapi keduanya sama-sama memiliki ruang ekspresi yang besar. Semoga gambaran ini bisa kita menentukan mana yang dianggap sesuai dengan jaman.

Link Terkait :

  1. PSPdotrumahseni2.net
  2. Cara Membuat Film
Media Social, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *