Manusia dalam Sebuah Frame Teater

actingTeater berawal dari nama sebuah tempat pertunjukan pada Yunani Kuno, yaitu Theatron. Masa itu drama merupakan satu bagian dari hiburan masyarakat. Bagi istana dijadikan sebuah media bagi propaganda kekuasaan. Begitu menariknya menonton dunia teater. Teater memberikan gambaran kisah-kisah , cerita-cerita yang dapat mempengaruhi siapa saja yang menontonnya. Dan tidak lain adalah kisah kehidupan manusia dengan segala persoalan. Tapi tidak semua persoalan dapat dijadikan sumber cerita. Hanya cerita yang menarik sajalah yang dapat divisualisasikan dalam bentuk permainan olah peran.

Menarik sebuah kesimpulan, bahwa Teater adalah sekelompok orang-orang yang memainkan kembali kehidupan manusia, bersumber pada cerita yang memiliki KONFLIK menarik. Teater dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita tahu bahwa pentas adalah ruang kecil yang dibatasi oleh dinding sisi kanan, kiri dan belakang. Dan penonton hanya melihat deretan orang-orang yang bermain dalam satu setting tempat. Keterbatasan inilah yang menuntut kreativitas tinggi untuk membangun cerita. Akan jauh berbeda jika kita bicara Film (sinema) yang mampu meloncat-loncat dalam urut adegannya (scene). Jika Anda mencoba memindahkan cerita Film ke atas panggung, jelas sudah akan begitu sulit. Mungkin hanya satu bagian saja yang bisa diterjemahkan menjadi bahasa teater.

Teater merupakan sebuah kerja kolektif pengkaryanya, di bawah arahan seorang sutradara (pengarah laku). Disana ada para pemeran (tokoh), ada juru lampu (lighting), ada pengatur musik, dan lain-lain. Sehingga boleh dikata bahwa teater merupakan bentuk yang paling utuh dari semua media seni yang ada. Satu dan yang lain harus bersinergi memberikan keutuhan sebuah karya. Para pemeran selain harus memberikan karakter tokoh, dia harus terus menerus mengembangkan ekspresi. Berkat para pemain yang hebat, karya teater bisa dikhayalkan kembali oleh penontonnya. Oleh sebab itu para pemain harus sesering mungkin berlatih diri mengembangkan segala bentuk karakter. Dalam istilah teater adalah Olah Gerak, Olah Suara dan Olah Rasa.

Untuk membangun sebuah Teater yang baik, Anda perhatikan 6 unsur di bawah ini :

TUBUH. Dunia pemeran tokoh dibutuhkan bentuk fisik yang sesuai dengan karakter tokoh (Cast). Beberapa pertanyaan yang bisa dimunculkan diantaranya seperti :

  • Berapa usianya? Tua, muda, anak-anak, dll.
  • Perawakannya ; gemuk-kurus, tinggi-pendek, cantik – tidak cantik, dan jika perlu seperti cacat fisik seperti bermata picak, berkaki satu, bongkok, dll.
  • dll.

GERAK (acting). Menjadi pemeran yang baik harus menguasai berbagai gerak manusia yang tidak selalu biasa, dan mungkin berlebihan. Dalam teater bahasa gerak bisa dikembangkan dalam jenis Pantomim, mengimajinasikan gerak-gerak yang tidak bisa, seperti : bercermin, mengangkat benda, bersandar pada meja, mengayuh sepeda, dll.

SUARA (Vocal) . Selain harus memiliki suara vocal yang kuat dan nyaring, pemain teater harus memiliki suara yang berkarakter sesuai tokoh. Beberapa yang harus ikut menjadi perhatian diantaranya adalah Diksi, Intonasi, Logat, Tempo, Dinamika, Warna Suara.

BUNYI. Bebunyian bagian yang tidak bisa dipisahkan dari teater. Bukan hanya musik yang berbunyi, tetapi berbagai bunyi lain (non musik) juga diperlukan sebagai pendorong ekspresi adegan. Di Film bagian ini lebih dikenal dengan music scoring atau sound track. Bunyi lolongan anjing atau srigala menggambarkan ketakutan, suara gemericik air, suara halilintar, dll , semuanya adalah penguat adegan.

VISUAL. Mata penonton ingin terpuaskan dengan bentuk dan warna-warna yang membangkitkan khayalan. Bidang kesenirupaan lah yang memiliki tugas pengembangannya. Beberapa komponen ini diantaranya adalah Properti, Dekorasi, Kostum, Rias, dan Lighting.

CERITA. Hanya cerita yang memiliki konflik terbaik dan tepat lah yang bisa digunakan sebagai seni panggungan.

Untuk apresiasi, perhatikam sebuah contoh dalam Konsep Teater Kontemporer yang disajikan oleh Teater Payung Hitam, di Berlin (Jerman).

Alur dan Konflik dalam Cerita Drama

propertiAdegan drama terdiri atas serangkaian kejadian yang saling berhubungan dan membentuk jalinan cerita yang disebut alur atau plot. Kejadian yang satu menjadi sebab atau akibat bagi kejadian yang lain. Ditinjau dari arah gerak ceritanya, alur dibedakan atas alur maju (progresi/ linier) dan alur mundur (regresi).

Alur maju atau disebut juga alur kronologis (alamiah) diawali dengan eksposisi, adegan ditampilkannya tokoh-tokoh penting dan latar kehidupannya. Disusul konflik, yaitu munculnya persoalan akibat terjadinya perselisihan tokoh. Bila konflik itu tidak teratasi, akan membesar, meluas, dan menjadi kompleks. Dalam tahap komplikasi ini, banyak tokoh lain yang terseret dalam persoalan. Puncak dari konflik, vaitu klimaks, saat persoalan mencapai titik paling menegangkan. Biasanya ini merupakan bagian yang paling mendebarkan dan dinanti-nantikan oleh penonton. Sebelum menuju ke akhir cerita atau konklusi, tokoh melewati tahap peredaan masalah atau antiklimaks. Bila digambarkan, grafik alur cerita yang bergerak maju seperti di atas adalah seperti berikut:

Dalam alur maju, sering kali terjadi kilas balik cerita (flash back), yaitu cerita berbalik sejenak ke masa lalu. Berbeda dengan alur maju, cerita alur mundur dimulai dari bagian akhir. Namun, ada juga yang diawali dari tengah cerita. Alur seperti ini disebut sebagai alur gabungan.

Cerita dalam drama tidak akan bergerak apabila semua tokoh memiliki watak, sikap, pandangan, dan harapan yang sama. Cerita bergerak karena muncul konflik yang dipicu oleh adanva perbedaan perbedaan antar tokoh. Konflik tidak selalu terjadi secara eksternal, yaitu antara tokoh dengan tokoh yang lain, tetapi bisa juga terjadi antara tokoh dengan dirinya sendiri (konflik internal). Selain itu, konflik juga dapat terjadi antara tokoh dengan keadaan alamiah dan sosial budaya di sekelilingnva dan dengan kepercayaan / keyakinan hidupnva (konflik batin/moral). Konflik social biasanya terjadi saat tokoh tidak mampu beradaptasi dengan nilai-nilai vang berlaku di masyarakat.

LAKON.

Lakon adalah hasil karya sastra yang berupa cerita dan disusun untuik keperluan pementasan dan pertunjukkan. Pada sebuah lakon tidak hanya berupa naskah cerita yang berupa dialog saja, tetapi seorang penulis lakon harus pula memperhitungkan masalah-masalah sebagai berikut :

  1. Watak-watak pendukung cerita, lengkap dengan karakternya.
  2. Adegan dari cerita yang disusun.
  3. Benturan-benturan berupa konflik.
  4. Tempo, irama, keseimbangan di dalam alur cerita.

Seorang penulis lakon menghendaki agar pembaca (penonton nantinya) dapat menghayati nilai-nilai yang terdapat pada naskah, dipikirkan, dan dirasakan serta dikhayalkan kembali.

Aristhoteles  selanjutnya menguraikan tentang struktur dramatik yang ditujukan untuk keperluan analisis naskah lakon. Naskah lakon yang konvensional terdiri atas 5 bagian, yakni :

  1. Eksposisi ; menyajikan segala informasi tentang tokoh cerita, keadaan saat cerita terjadi, suasana yang diinginkan cerita.
  2. Komplikasi ; menunjukkan pertumbuhan cerita lengkap dengan persoalan dan konflik.
  3. Klimakasi, berupa konflik puncak.
  4. Resolusi, menguraikan pemecahan persoalan.
  5. Konklusi, biasanya berupa kesimpulan akhir dari cerita.

Dalam penulisan naskah perlu pula memperhitungkan tempat pentas dengan perubahan tempat-tempat kejadian dalam sebuah cerita. Jangan Anda bayangkan seperti Film Layar Kaca dalam menulis naskah, karena itu tidak atau sulit untuk dapat dipertunjukan di atas pentas. Kejadian demi kejadian perubahannya berlangsung secara cepat, begitu pula tempat kejadiannya. Sedangkan dalam pentas,  ruang dan waktu sangat terbatas.

Media Social, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *