MEMBAHASAKAN MUSIK DENGAN CARA BERBEDA

Sebuah pemandangan yang cukup unik tatkala kita memasuki sebuah space bertata ruang instalasi. Pada umumnya, orang melihat dan menonton seni pertunjukan di satu ruang yang penuh pemanjaan bagi penontonnya. Adalah sebuah ide kreatif seorang seniman, menciptakan nuansa yang berbeda, berbeda dalam persepsi umum. Mungkin kita harus kembali kepada pemahaman eksotisme ekstrim yang membuat dahi kita mengkerut tanda tak paham. Tapi itulah karya seni memang bukan harus lurus, sejajar dengan kondisi umum. Disini letaknya estetika yang tak berkesudahan untuk dimaknai.

Cilanguk Art District, adalah sebuah tempat di sebuah perkampungan di kawasan Dago Giri – Bandung. Begitulah nama ini disebutkan oleh seorang seniman rupa, Ali Robin , merangkap studionya. Tempat yang terkesan jauh dari rumah-rumah mapan, memang sangatlah harmoni dengan suasana perkampungan yang dikitari lembah-lembah.

Sore yang diguyur hujan cukup lebat tak menyurutkan niatan menggelar Performing Art bertajuk “Iron Age V“. Entah apa yang dimaksud dari judul gelaran ini. Di halaman studio itulah gelaran acara berlangsung. Beberepa instrument dan peralatan audio memenuhi teras . Dan disana-sini bergeletakan benda-benda di atas rerumputan yang mungkin tak lazim, seperti televisi tua, mesin jahit, sepeda, patung, dan lainnya. Malam pun hanya ditemani oleh beberapa lampu sorot yang mengesankan redup. Di hadapan panggung, dua buah reflektor (infocus) menghiasi dinding dan panggung berkonsep video maping, meskipun sifatnya hanya mewarnai saja. Tapi… wow… kesan dramatis dan kosmis dalam paduan keseluruhan visual membangkitkan kegairahan dalam berkesenian.

Dikeheningan malam yang cukup dingin itu dihentakan berbagai tabuhan, dan muncullah perform pembuka… beberapa remaja menari-nari menggunakan kostum serba putih, mengusung Sisingaan. Begitu eksentrik semua personil yang kurang lebih 30 orang. Menari-nari sambil menyanyi dan bahasa yang juga tak miliki arti yang sesungguhnya. Dalam kaidah seni saya menyebutnya seni kontemporer. Sungguh luar biasa apa yang ingin dibangkitkan dari performing arts ini. Di beberapa sudut, beberapa penonton ikut menyemangati dan sambil tertawa melihat tingkah unik para penyaji.

Tak menunggu lama, giliran sebuah penyaji musik yang menamakan “Kosmosis” menggelandan telinga penonton dengan berbagai nuansa musik kosmis, membawa ke dalam suasana alam di daerah Hindustan – India. Berbagai instrumen folklore daerah itu menghentakkan telinga dengan ruang kosmis. Disana ada Bintang Manira Manik (multiinstrumentalis), Alam Darvis (gitar), dan Gilang Anom (shruti box, vocal), menyajikan beberapa komposisi musiknya.

Musisi Adew Habtsa, musisi humoris menghangatkan suasana malam yang semakin dingin dengan suasana humoris. Adew menyajikan beberapa musik balada sambil mengakrabkan suasana gelaran, melucu dan terus berkomunikasi dengan penonton. Adew (gitar) ditemani Maldy (perkusi) dan Devid (didgeridoo).

Next… Inilah yang sungguh diluar jangkauan kita bagi yang terbiasa dengan musik-musik mapan. “Ensembel Tikoro“, sebuah music performing dengan mengandalkan vocal. Awalnya mungkin terkesan serius, bermodalkan partitur musik, lengkap dengan stand part nya. Diawali komposisi pertama , penonton diajak tertawa geli melihat laku dan mendengar paduan vocal bergaya scream metal hardcore. Vocal sebagai andalan dieksplorasi sehebat-hebatnya membangkitkan berbagai tiruan bunyi yang unik.

Sebuah sempalan musik lain adalah sebuah group yang mengeksplorasi kekuatan electronic instrumen audio, menciptakan ruang musik yang terkesan mistis. Bunyi-bunyi electronic ini memang pecah, menciptakan high frequensi yang tak stabil. Mengagumkan bunyi elektronik saling sahut menyahut seolah menjerit dan menangis.

Dan sebagai penutup “Malam Bahasa Musik” ini di Cilanguk Art District, musisi-musisi senior pun turun melengkapi semua bahasa musik di malam yang sungguh apresiatif ini. Hari Pochang (Harmonica), Ammy Kurniawan (Violins), Ary Yuliant (Banjo, Gitar, Vocal), dr.Ashril “Ucrit” (Sitar), Bintang Manira (Tabla, Karinding) secara bersama ataupun solo memberikan penyajian yang indah. Satu dan lainnya saling berdialog menciptakan nuansa musik dengan bahasa yang berbeda. Sebagai musisi senior tentunya dialog yang sifatnya improvisasi hampir tak menemui jarak apapun, bergandengan erat dengan kekentalan harmoni baru.

 

Ali Robin, sang tuan rumah sumringah lega. Gelaran yang notabene adalah spontan dari obrolan-obrolan kecil, akhirnya menjadi sebuah ruang pertemuan dari berbagai ide dan kreativitas, membuka suasana baru yang mendorong generasi muda untuk berani berkarya dalam segala ruang. Kalau disebut ini sebuah pergelaran, bisa ya dan tidak. Para seniman bahu membahu, udunan, dalam materi dan tenaga untuk wujudkan ini semua.  Bandung memang tidak salah sebagai gudangnya seniman sejati. (20/03/17)

 

 

Media Social, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *