KECAK

KECAK

Pura Luhur Uluwatu terletak di bahagian selatan Bali. Ia merupakan salah sebuah pura (kuil) tersuci di Bali dan boleh dikatakan antara yang tercantik.

Alkisahnya, Pura Luhur Uluwatu telah dibina oleh Mpu Kuturan, tokoh dalam sejarah Bali dari abad ke-11 dan Hyang Nirarta seorang pendeta telah membina semula pura ini 500 tahun kemudian. Sehingga ke awal abad ke-20, hanya putera-putera dari Denpasar sahaja yang dibenarkan bersembahyang di pura ini. Kini ia dibuka untuk para pelancong.

Pura Luhur Uluwatu di bina di atas sebuah tebing tinggi. Di sini terkenal dengan monyet-monyetnya yang suka mengganggu para pelancong yang datang dengan mencuri cermin mata, dompet dan segala-galanya yang boleh mereka ambil dengan tangan mereka yang cilik itu. Maka itulah antara imej-imej terawal yang dapat ingati tentang Bali.

Berlawanan dengan kepercayaan, tarian Kecak itu sendiri tidak begitu tua. Tari kecak sebenarnya adalah sebuah tarian yang agak modern. Ia mula muncul pada tahun 1930-an dahulu di desa Bona. Pada mulanya, ia merupakan sebuah tarian “Sanghyang” atau tarian menurun (seperti kuda kepang). Tari Sanghyang adalah tari sakral, yang terdapat dalam rangkaian sebuah upacara adat suci. Tari Sanghyang merupakan tari kerauhan (trance) karena kemasukan roh (bidadari khayangan dan binatang lainnya yang memiliki kekuatan merusak seperti babi hutan, monyet, atau yang mempunyai kekuatan gaib lainnya). Tari ini adalah warisan budaya Pra-Hindu yang dimaksudkan sebagai penolak bahaya, yaitu dengan membuka komunikasi spiritual dari warga masyarakat dengan alam gaib. Tarian ini dibawakan oleh penari putri maupun putra dengan iringan paduan suara pria dan wanita yang menyanyikan tembang-tembang pemujaan.

Dalam tarian Kecak, lebih kurang seratus penari lelaki yang berlengging dan hanya memakai sarong poleng dengan corak kotak hitam putih (babulefan) duduk di dalam satu bulatan mengelilingi sebuah lampu minyak (panyembeyan) yang telah ditata sedemikian rupa berbentuk candi – candian. Tarian ini tidak diiringi oleh musik gamelan. Para penari lelaki ini akan menyanyi dalam satu nada yang sama, terus-menerus meneriak: “chak-chak-chak-chak” dengan tangan mereka digerakkan seperti monyet.

Pada tahun 1900 dahulu, seorang koreografer dan penari dari Jawa, Sardono Kusumo datang ke Ubud dan menjadikan tarian Sanghyang ini lebih menarik. Beliau memasukkan unsur cahaya (sabut kelapa yang dibakar) dan dijadikannya tarian ini lebih menarik dengan pergerakan yang dinamik.

Dengan kedatangan pelancong barat ke Bali pada tahun 30-an dahulu, tarian yang mengadaptasikan epik Ramayana ini telah direka semula dengan saranan dari Walter Spies, seorang pelukis Jerman terkenal dan Katharine Edson Mershon, seorang ethnologis tarian untuk sebuah filem Victor Baron von Plessen berjudul “Island of Demons” – lantas tarian ini terus dikenali di seluruh dunia.

Dibalik Cerita.

Kecak dance - HanomanTarian kecak ini pada dasarnya menceritakan tentang kisah putera Rama yang telah dibuang dari kerajaan Ayodya kerana dirinya dikhianati. Dengan diiringi oleh isterinya yang setia, Sita dan adiknya Laksamana, mereka masuk ke sebuah kawasan hutan bernama dandaka. Raja raksasa, Rahwana terserempak dengan mereka tatkala mereka di dalam hutan dan beliau terus menggilai Sita yang jelita. Dengan ditemani oleh Pepatihnya, Marica, Rahwana mencari jalan untuk menculik Sita. Dengan menggunakan kuasa ajaibnya, Marica mengubahkan dirinya menjadi seekor kijang emas. Sita terlihatkan kijang emas yang cantik ini lantas meminta suaminya untuk memburu kijang istimewa ini.

Putera Rama dan Laksamana pergi memburu seekor kijang emas yang diidamkan Sita. Ketika Putera Rama dan Laksamana pergi memburu, Rahwana pun pergi menculik Sita dan membawanya pulang ke istananya, Alengka (alkisahnya, pada waktu Rahwana mau menculik Sita, Jentayu coba melawan, tetapi dapat dikalahkan juga oleh Rahwana).

Rama mendapat tahu tentang penculikan Sita oleh Rahwana, lantas mencari jalan untuk menyelamatkan isterinya ini. Dalam pada itu, datang pula Hanoman, raja kepada segala monyet untuk datang membantu….

Tarian untuk menceritakan epik ini dilakukan di tengah-tengah pentas di mana para pelakon mengelilingi sebuah lampu minyak.

Tarian kecak ini diakhiri dengan pelakon yang membawa watak Hanoman menendang sabut yang sedang terbakar untuk melakonkan semula kembali babak beliau dibakar di dalam Alenka. Bagian ini dipanggil tarian api, ataupun “fire dance”.

Menurut Margaret Mead, ahli antropologi terkenal yang pernah menetap di Bali, upacara yang bersifat keagamaan di Bali (seperti tarian kecak ini, sebagai contoh), walaupun dilakukan dengan dibiayai oleh orang luar (melalui pelancongan), masih tetapĀ  terpelihara kesucian kandungan keagamaannya.

Kini kecak adalah salah satu jenis tarian yang sering dipertunjukan atau ditonton oleh para tamu-tamu dari luar negeri maupun dalam negeri. Tarian ini sering dipertunjukan di lokasi yang sudah ada yaitu di Kabupaten Gianyar tepatnya di Desa Batu bulan Jaraknya kurang lebih 20 km dari kota Denpasar.

Media Social, Share!

One thought on “KECAK

  1. March 5, 2010 at 9:47 ammuthushiv: yes!, this is the right video for comenting jai sri ram! becusae this is a dance named kecak or kechak dance telling about ramayana story!like in 1:48 the charachters there are sita and rama!jai shri ram!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *