SASANDO

Menyusuri Nusa Tenggara Timur serasa belum lengkap jika tidak menyambangi Pulau Rote Kabupaten Rote Ndao. Rote layak dikunjungi bukan semata karena pulau terluar Indonesia paling selatan, namun juga karena budayanya yang unik. Di pulau ini sasando adalah puncak pencapaian seni musik yang ditemukan sejak abad ke-15.

Yusuf Nggebu, pemain dan pembuat sasando ternama di pulau itu. Hampir semua orang Rote mengenal Yusuf Nggebu (82). Namun, kini pemilik nama besar itu tidak lagi aktif bermain karena usianya yang sudah lanjut.

Jacko H.A. Bullan boleh jadi merupakan salah satu generasi terakhir pewaris Sasando Rote.

Ketika dikunjungi, Nggebu masih bersemangat membahas nasib sasando yang saat ini hampir kolaps. Di mata Nggebu, sasando bukan sekadar alat musik tradisional, namun lebih dari itu, sasando telah menjadi identitas Rote. Nggebu menceritakan hikayat asal-usul sasando yang penuh dengan ”warna”. Sasando berasal dari kata sari (petik) dan sando (bergetar) yang diyakini diciptakan Sanggu Ana pada abad ke-15 di pulau kecil dekat Pulau Rote, yaitu Pulau Dana, yang waktu itu dikuasai Raja Taka La’a. Sanggu adalah warga Nusa Ti’i di Pulau Rote Barat Daya. Dia ditahan Raja Dana saat terdampar di pulau itu ketika mencari ikan bersama kawannya, Mankoa. Selain seorang nelayan, Sanggu juga seorang seniman.

Saat itu Raja Dana memiliki putri. ”Tidak disebutkan siapa nama putri ini,” kata Nggebu, putri jatuh cinta kepada Sanggu. Kepada Sanggu, putri menyampaikan permintaannya untuk memiliki alat musik baru yang diciptakan Sanggu dan bisa menghibur rakyat. Putri memang suka membuat hiburan rakyat saat purnama tiba. Sanggu kemudian menciptakan sari sando yang artinya bergetar saat dipetik. Saat itu dengan tujuh tali yang terbuat dari serat kulit kayu atau akar-akaran. Hubungan putri dengan Sanggu itu ketahuan Raja Dana. Sang Raja Taka La’a marah besar dan menghukum mati Sanggu.

Kawan Sanggu yang sempat melarikan diri, Mankoa, melaporkan kejadian itu ke Nusa Ti’i. Anak Sanggu di Ti’i, Nale Sanggu, marah mendengar ayahnya tewas. Nale balas dendam bersama 25 kesatria Ti’i. Seisi Pulau Dana dimusnahkan, hanya anak-anak dan alat musik sasando warisan ayahnya yang diselamatkan ke Ti’i.

Di Ti’i sasando dimodifikasi, talinya menjadi sembilan. ”Musiknya sudah bisa lima not terdiri dari mi, sol, la, do, re. Si dan fa tidak ada,” jelas Nggebu.

Pada zaman Belanda, abad ke-18, jumlah tali ditambah menjadi 10 tali. Sesudah merdeka kembali mengalami perubahan dengan menambahkan tali menjadi 11 tali. Pada abad ke-19, sasando sasando haik itu dimodifikasi menjadi sasando biola oleh putra Ti’i bernama Kornelis Frans. Disebut sasando biola karena saat membuat nadanya disesuaikan nada biola.

Jumlah tali menjadi 39 buah dan nada pokok menjadi tujuh not. Cara mamainkan sasando adalah dengan cara dipetik. Nggebu menunjukkan sasando biola miliknya yang sudah dimodifikasi. Ruang resonansinya tak lagi menggunakan haik, namun diganti kotak kayu dan dihubungkan amplifier agar suaranya nyaring.

Sumber :

Media Social, Share!

One thought on “SASANDO

  1. Karena prihatin masih banyak orang-orang NTT yang belum mencintai dan berminat dengan sasando, karena orang menganggap memetik sasando ini sulit apalagi bentuknya bulat dengan banyak dawai. Pada hal memetik sasando tidaklah sulit apabila diajarkan dengan benar. Ternyata dari hasil didikannya semuanya berhasil dan sekarang sudah mulai berkembang bahkan ada yang sudah sampai ke luar negeri. Continue reading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *