Tradisional kontra Moderen

Membaca judul di atas janganlah lantas di asumsikan bahwa terjadi sebuah perlombaan atau ada masalah diantara keduanya. Keduanya sama-sama hidup di era kekinian, meskipun berbeda dalam cara dan nilai-nilai yang kehidupannya sendiri-sendiri. Pertanyaan di antara kita adalah layakkah Seni Tradisional terus dipertahankan seperti gaungnya kalimat ….Lestarikan Budaya Bangsa, Lestarikan seni tradisional…dan kita berebut persoalan siapa pemilik Seni Batik, Seni Reog Ponorogo, Pencak Silat di Majelis Umum UNESCO. Bagaimana usaha Indonesia mendapatkan sertifikasi Angklung sebagai budaya asli Indonesia, dan seterusnya. Usaha-usaha ini tentunya tidak mudah untuk mendapatkan sebuah harga bangsa di forum internasional. Sementara itu kita, para seniman, para penikmat seni, industri media televisi dan mungkin juga adalah pemerintah terus mengedepankan nilai-nilai kekinian. Pertanyaannya adalah “SALAHKAH?”

Baik mari kita kupas satu persatu lewat tulisan di bawah ini.

Angklung bergema penanda upacara ritual tanam padi atau panen padi di daerah Baduy-Banten. Para pemain musik sambil menari menggetarkan angklung secara ritmik. Beberapa waditra (instrument musik) lain seperti dog-dog lojor memberi tekanan ritmik musik sehingga semua orang yang berada di arena upacara tersebut ikut menari-nari. Angklung dengan bilah-bilah bambu yang terangkai dengan sederhana itu dipercaya bahwa bebunyian angklung memberi rasa penghormatan terhadap dewi sri, dewi padi, nyai Pohaci Sanghyang Asri, sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang melimpah.

Perhatikan Video di bawah ini.

Tampak sekali bagaimana sikap kesederhanaan dan begitu menyatu dengan kondisi lingkungan yang ada (natural). Musik dimainkan secara ritmik berulang-ulang (repetitif), tidak bermelodik. Syair-syairpun terkesan merupakan ungkapan-ungkapan rasa syukur terhadap sang Maha Pencipta. Tentu saja jauh sekali dengan kesan moderen.

Dalam kehidupan yang terus berkembang, angklung beradaptasi menjadi angklung moderen yang dipelopori oleh Daeng Sutigna, yakni angklung melodik. Dan itulah yang kini terus berkembang terpelihara dengan baik di berbagai komunitas kesenian dan sekolah-sekolah.

Ketika kita kembali pada judul di atas, tentunya kita sedikit memiliki jawaban.

Seni Tradisional.

Adalah seni-seni yang tumbuh di masyarakat di satu wilayah tertentu yang memiliki karakter khusus, sesuai dengan pola kehidupan masyarakat di daerah tersebut. Padanya terlibat sebuah sikap dan kepercayaan terhadap nilai-nilai tertentu, seperti hubungannya dengan alam, sang Maha Pencipta dan pola kehidupan manusia. Disanalah adat istiadat tumbuh berkembang oleh mereka dan untuk mereka. Dan itu tersebar dengan keragaman yang sangat luar biasa dari Sabang (Aceh) hingga Merauke (Papua) . Sebagai contoh , orang Jakarta, Bandung, Banjarmasin, Ambon sekalipun dengan sangat berlatih ekstra bisa saja menyajikan Tari Saman. Tapi tidak akan sebaik masyarakat Aceh sebagai pemilik lokal Tari Saman dilahirkan.

Beberapa yang kita bisa jadikan sandaran untuk menggolongkan seni tradisi, adalah sebagai berikut :

  1. Lokal Daerah (komunitas) , yang menggambarkan tempat, seperti : daerah agraris-pertanian, pantai, kepulauan, dll.
  2. Adat Istiadat, seperti : pesta nelayan, panen padi dan perkebunan, siklus hidup (kelahiran, akil balik, khitanan, pernikahan, kematian), dll.
  3. Sederhana, memiliki ragam yang unik, natural, eksotis (keindahan murni), dll.
  4. Kebersamaan , pemilik bersama , diwariskan turun temurun dari para leluhurnya.

Cukup jelas sudah bahwa seni tradisional lebih dominan keterlibatan emosional-spiritual.

Seni Moderen.

adalah akibat pergaulan budaya lokal dengan budaya luar. Bentuknya bisa melalui proses adaptasi, akulturasi, kolaboratif, ataupun imitasi. Bahwa sejak lama bangsa Indonesia sudah bersentuhan dengan budaya non pribumi yang dibawa melalui jalur niaga-perdagangan, agama, dan juga penjajahan di bumi Indonesia. Membicarakan tentang era kekinian tentunya semua sudah sangat maklum terjadinya migrasi budaya dengan sangat cepat. Mau tak mau arus ini juga turut mewarnai dari perubahan kesenian masa ke masa.

Sebagai contoh adalah Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya“. Indonesia Raya pertama dikumandangkan pada tahun 1928. WR Supratman (1903-1938) penciptanya, memiliki latar belakang musik barat, yaitu untuk instrument violin yang notabene adalah instrument Barat. Dapat dipastikan bahwa Indonesia Raya memiliki fondasi musik Barat. Artinya bahwa sudah lama Indonesia bersentuhan dengan budaya Barat, termasuk seni-seni yang tumbuh di seluruh nusantara.

Untuk menilik seni moderen, kiranya ada beberapa indikator yang bisa diamati. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Global ; memiliki bahasa universal, bahasa seni yang dapat dicerna oleh masyarakat belahan dunia manapun.
  2. Peran Ilmu dan Teknologi mendorong perubahan bentuk yang sangat cepat.
  3. Profesional ; karya seni dilahirkan oleh orang-orang yang menggeluti di bidang seni , seniman.
  4. Pemilikan bersifat individu ; Hak Cipta , Hak Patent
  5. Beragam fungsi dalam masyarakat

Terlalu banyak menyebut nama besar seniman Indonesia untuk ditulis disini. Beberapa diantaranya sangat melegenda. Dan beberapa lainnya lahir dan terus tenggelam digerus jaman.

Sebuah kesimpulan kecil. Sangat kurang elok membandingkan seni tradisional dan seni moderen. Keduanya berdiri diatas fondasi yang berbeda, latar belakang yang berbeda, tujuan yang berbeda. Seni tradisional ibaratnya sebuah zamrud khatulistiwa, seperti yang ditulis Chrisye dalam lagunya “Zamrud Khatulistiwa“. Kekayaan nilai sangat tak terhingga sampai kapanpun. Semoga saja…. (*paw)

Baca juga :

  1. Nusantara
  2. Menilik Eksotisme tradisi Nusantara
  3. Menyambung Rasa Indonesia

 

Media Social, Share!

Leave a Reply

  

  

  

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.